Perbedaan Pemulasaraan Jenazah oleh Masyarakat Adat Bali Aga dan Bali Majapahit

Pulau Bali, wilayah yang dikenal oleh masyarakat dunia dengan adat istiadat dan keindahan alamnya. Umat Hindu masih mendominasi wilayah Bali hingga saat ini, hal tersebut menunjukkan bahwa pemeluk agama Hindu menjaga erat adat istiadat yang diajarkan oleh para leluhur sehingga masih bertahan sampai saat ini. Adat istiadat masyarakat Bali sebagian besar berupa upacara adat, dalam pelaksanaannya setiap masyarakat adat memiliki cara dalam menjalankan tiap prosesinya. Keberagaman cara tersebut jika dilihat dari sudut pandang sejarah terdapat dua suku mayoritas di pulau Bali, yaitu suku Bali Aga dan suku Bali Majapahit. Suku Bali Aga diyakini sebagai suku pertama yang menghuni pulau Bali, adapun suku Bali Majapahit adalah masyarakat yang datang dari jawa pada abad 13 hingga 16 dikarenakan ekspansi kerajaan Mahapahit pada saat itu.
Proses ekspansi tersebut masyarakat yang datang dari Majapahit menduduki wilayah Gelgel, Tabanan, Kaba-Kaba, Carangsari, Tangkas. Wilayah yang diduduki merupakan dataran rendah di Bali, sedangkan suku Bali Aga bergeser mendiami wilayah Karangasem, Buleleng, dan Kintamani dimana wilayah tersebut merupakan dataran tinggi. Perbedaan wilayah yang ditinggali menjadi salahsatu faktor perbedaan prosesi upacara adat, salah satu yang paling terlihat adalah upacara Ngaben yang sudah kerap dikenalkan kepada masyarakat diluar Bali. Ajaran agama Hindu meyakini upacara Ngaben sebagai ritual keagamaan untuk memulangkan roh leluhur kembali ke tempat asalnya yaitu Panca Maha Bhuta, proses mengembalikan raga itulah yang terdapat perbedaan antara masyarakat Bali Aga dan masyarakat Bali Majapahit.

Masyarakat Bali Aga meyakini proses pengembalian roh yang telah meninggal dilakukan dengan cara ngelebur, artinya mengembalikan tubuh manusia kepada Panca Maha Bhuta. Kepercayaan masyarakat Bali Aga dengan menguburkan jenazah maka jasadnya akan terurai secara alami oleh unsur-unsur yang ada di tanah. Disisi lain, masyarakat suku Bali Majapahit meyakini bahwa dengan dibakar maka akan memepercepat proses kembalinya unsur dalam tubuh ke alam semesta. Meski terdapat perbedaan dalam prosesi merawat jenazah, satu hal yang sama adalah mengembalikan tubuh kepada unsur-unsur Panca Maha Bhuta dengan keadaan yang suci.